Rabu, 27 Juli 2011

Kepala Alex Bisa Diputar 180 Derajat Plus VIDEO

Elastisitas otot leher pria muda bernama Alexander ini membuat kita tercengang. Bayangkan, Alex bisa memutar kepalanya hingga 180 derajat.


Aksi Alexander sempat membuat seorang penjaga di sebuah supermarket melempar benda yang dia pegang dan menutup mulut, tanda tak percaya. Dengan bantuan kedua tangan, Alex memutar kepala hingga ke belakang badannya.

Kemampuan tubuh Alex yang berasal dari Eropa Timur ini menarik perhatian sekelompok peneliti. Alex mengaku baru tahu soal elastitas lehernya saat berlatih gym, beberapa tahun lalu. Dia pun berlatih terus hingga kepalanya bisa diputar melebihi batas ambang orang normal.

Alex juga mengaku butuh energi dari seluruh tubuhnya dan konsentrasi penuh untuk melakukan aksi tersebut.

Untuk melihat aksi Alexander,. Peringatan, jangan meniru aksi Alexander ini jika anda tak ingin cedera!



Source : Kepala Alex Bisa Diputar 180 Derajat

Selasa, 19 Juli 2011

Seorang Pemuda Tewas Mengenaskan Akibat Kentut

Maksud hati bercanda tapi kebablasan alias keterlaluan, alhasil bukan senang yang didapat malah jadi petaka. Itulah yang dialami Ribut Supriyanto, remaja berusia 17 tahun. Warga Perumnas Jatiroto Permai, Desa/Kecamatan Jatiroto, Lumajang yang akhirnya tewas di tangan sahabat mainnya, Jefri Ananta, 20, lantaran olok-olok dan tingkah guyonan Supriyanto dianggap keterlaluan.



Kentut membawa maut

Jefri mengatakan, Supriyanto kerap kentut dengan sengaja di depan mukanya dan melontarkan ejekan dengan kata-kata kotor. Awalnya, aksi pembunuhan terhadap Supriyanto sempat dikamuflase oleh Jefri, yang juga teman ngamen korban. Namun, berkat kejelian polisi yang mencurigai cerita Jefri, pembunuhan itu akhirnya terungkap kemarin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, aksi penganiayaan hingga mengakibatkan korban meninggal dunia itu terjadi di Dusun Sembon, Desa/Kecamatan Jatiroto. Persisnya di sebuah kebun rambutan. Kejadian itu bermula ketika tersangka bermain remi di depan rumahnya. Permainan remi tersebut diwarnai saling ejek dan saling olok. Merasa lelah dan jenuh bermain remi, Supriyanto mengajak Jefri berburu kalong (kelelawar) di sebuah kebun yang dipenuhi tanaman rambutan. Jarak pekarangan itu sekitar 100 meter dari rumah Jefri dan saat itu sekitar pukul 23.00 WIB.

Beberapa orang lain yang ikut bermain remi, memilih tak gabung dan membubarkan diri. Dengan membawa senapan angin dan sebilah pisau, Supriyanto dan Jefri kemudian berangkat menuju tempat perburuan. Tak lama setelah memasuki kebun rambutan, pelaku tiba-tiba menikam punggung, dada, serta tangan korban dengan pisau. Terhitung ada sembilan luka tusuk yang dialami korban.

Mengetahui korban jatuh tidak berdaya, pelaku berteriak minta tolong. Dari kejauhan Rifan, ayah tiri Supriyanto, lamat-lamat mendengar suara minta tolong tersebut. Rifan lantas mendatangi asal suara. Ketika sudah dekat, Rifan terkejut tatkala mengetahui Supriyanto roboh bersimbah darah dan sudah tak bisa berkata-kata. Jefri terus berada di dekat Supriyanto kala itu.

Warga kemudian berdatangan ke tempat kejadian perkara. Tatkala ditanya Rifan dan beberapa warga, Jefri mengaku bahwa temannya itu baru saja ditusuk oleh pencuri rambutan yang berjumlah tiga orang. Lantaran tepergok, begitu cerita karangan Jefri, para pencuri itu menyerang dan menusukkan pisau ke tubuh Supriyanto.

Cerita Jefri sempat memunculkan tanda tanya karena dia sendiri tak terluka sedikit pun. Namun, demi secepatnya menyelamatkan Supriyanto, orangtuanya yang dibantu warga lebih mengurusi Supriyanto, lantas membawanya ke rumah sakit terdekat, Rumah Sakit Umum (RSU) Djatiroto. Jefri juga menyertai ke sana.

Tidak lama dirawat di sana, akhirnya nyawa Supriyanto tak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhirnya. Berita kematian Supriyanto akibat `dibunuh pencuri` itu menyebar dan akhirnya didengar polisi. Karena itu, setelah dinyatakan meninggal, jenazah Supriyanto diminta polisi untuk tidak langsung dibawa pulang melainkan divisum dulu di RSUD dr Haryoto, Kota Lumajang.

“Untuk lebih jelas mengetahui penyebab kematiannya,” kata Kasat Reskrim Polres Lumajang, AKP Kusmindar, Kamis (14/10).
Menganggap ada hal-hal yang mencurigakan dari cerita Jefri, polisi secara maraton memeriksa warga Dusun Sembon, Desa/Kecamatan Jatiroto itu. Akhirnya, di hadapan penyidik, Jefri mengakui bahwa yang melakukan penganiayaan hingga membuat korban meninggal adalah dirinya.

“Saya jengkel karena dia sering kentuti dan mengejek saya dengan kata-kata jorok,” kata pelaku di hadapan penyidik.
Menurut AKP Kusmindar, kejengkelan pelaku tampaknya sudah memuncak setelah main remi malam itu. Dalam perburuan kalong, saat Supriyanto lengah, pelaku merebut pisau Supriyanto dan langsung menusuk tubuh korban beberapa kali.
Kusmindar mengatakan, tersangka dikenai pasal berlapis yakni Pasal 351 Ayat 3 KUHP dan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan.

Sementara itu, Kapolsek Jatiroto AKP Mochamad Toha mengatakan, pelaku saat ini ditahan di Mapolsek Jatiroto. “Kami masih terus lakukan pemeriksaan terhadap tersangka,” katanya. Toha mengatakan, korban sehari-hari adalah seorang buruh lepas dan kadang mengamen. Sementara pelaku adalah seorang buruh lepas. Toha juga mengatakan bahwa dari keterangan pelaku diketahui bahwa pelaku ternyata pernah terlibat kasus pencurian kendaraan bermotor dan jambret hingga pernah dihukum dua.

Source :  Seorang Pemuda Tewas Mengenaskan Akibat Kentut

Selasa, 12 Juli 2011

Heboh, Pria Bersisik dan Perempuan Berwajah Monyet di Ende

Warga kota Ende Nusa Tenggara Timur (NTT) dihebohkan dengan tentang pria bersisik dan wanita berwajah monyet. Kabar yang telah menggegerkan warga sejak tiga hari lalu, bukan bualan semata. Manusia langka ini benar-benar ada di Kota Ende.




Keduanya adalah Ari Wibawa alias Sitole (13), pria dengan tubuh penuh sisik mirip ular serta Septiani Abdulah (11), anak perempuan yang wajahnya mirip monyet. Sekujur tubuh Septiani mulai dari tengkuk ditumbuhi rambut.

Sitole dan Septiani hadir di Gedung Baranuri-Ende sejak Sabtu (29/5/2010) malam. Mereka akan berada di Ende sampai dua minggu mendatang.

Sitol adalah anak sulung dari pasangan Erman dan Nur Ali berasal dari Desa Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Kabupaten Tanggerang, Banten. Tubuh Sitole penuh sisik, mirip ular yang hendak berganti kulit. Dari telapak kaki sampai kepala semuanya bersisik. Setiap 41 hari dia berganti kulit dan kejadianya telah berlangsung sejak dia dilahirkan. Adiknya bernama Aris yang kini berusia 8 tahun kondisinya normal.

Menurut Arfan Afandi, kakek Sitole yang mendampinginya bersama pengurus Yayasan Gebyar Manusia Langka Jakarta, setiap 15 menit tubuh Sitole harus dibasahkan dengan air. Bukan hanya itu, setiap tiga jam tubuhnya harus diolesi dengan lotion merek lacticer seharga Rp 125.000/tube. Lotion ini hanya sekali pakai dan habis.


Jika tak diolesi lotion, tubuh Sitole akan mengerut menyerupai patung. “Seperti mayat hidup, mirip orang yang tubuhnya terbakar. Mengeras, dia tak bisa bergerak seperti jadi kaku. Kalau dibiarkan terlalu lama, dia tak bisa bicara karena kerutan di mulutnya menjadi sangat keras,” kata Afandi kepada FloresStar di Gedung Baranuri, Senin (31/5/2010).

Jika dibiarkan mengeras terlalu lama, mengerut dan tak diberi lotion, maka akan keluar darah dari tubuh Sitole. Sitole tak bisa bicara dan bola matanya bisa tertarik ke luar. Bahkan bola mata sebelah kanan tidak berfungsi sama sekali, sementara mata kiri harus diberi obat tetes mata terus-menerus.

“Kalau tidak, dia akan rasa perih sekali. Lama-lama bisa keluar, mata sebelah kanan rusak sama sekali, sampai sekarang karena tidak dikasi obat tetes mata ketika dia rasa perih,” kata Afandi.
Pembawaan fisik Sitole, nama baru yang diberikan Yayasan Gebyar Manusia Langka, kata Afandi, terjadi sejak lahir di kampung halamannya.

Melihat tubuhnya yang bersisik tak seperti manusia normal pada umumnya, ayah dan ibunya membawanya ke RS Harapan Kita di Jakarta dan dirawat sebulan di sana. Dari RS Harapan Jakarta, Sitole dibawa orangtua dan sanak familinya ke seorang dokter di RSUD Tanggerang, Banten. Hasil pemeriksaan dokter merekomendasikan sisik pada kulit Sitole bukan penyakit, tetapi kelainan kulit. Dokter menyarankan supaya dioperasi, tetapi keluarga ini tak memiliki biaya yang cukup.

“Biayanya sangat mahal. Untuk beli lotion saja tidak cukup uang. Ada sponsor yang bawa mereka keliling ke kota-kota cari dana supaya bisa beli lotion,” kata Afandi yang selalu duduk mendampingi cucunya.

Lain lagi cerita tentang perempuan dengan wajah mirip monyet dan bulu di badan. Septiania Abdulah (11), biasa disapa Septi, beraktivitas seperti anak-anak normal. Putri kedua pasangan Yusuf Abdullah dan Fatma Nusi ini asal Dumbaya Wulan, Kabupaten Bone Bolango, Propinisi Gorontalo. Kini dia duduk di bangku kelas III SD Inpres Dumbaya Wulan.

“Dia main dengan anak-anak normal pada umumnya. Yang membedakan hanya wajahnya, terutama mulut dan hidungnya yang mirip monyet. Di tengkuk sampai ke pantat tumbuh rambut yang panjang,” kata Fatma, ibunda Septi kepada FloresStar, kemarin.

Menurut Fatma, ketika mengandung anak keduanya itu, dia tidak mengalami kelainan apapun. Usia kehamilan sampai melahirkan normal saja. Genap sembilan bulan, Fatma melahirkan anak perempuan.

“Tak ada mimpi atau gejala yang aneh-aneh. Tetapi waktu lahir, di belakang tengkuk sampai ke pantat tumbuh bulu-bulu yang panjang. Kami tak punya keturunan seperti ini,” kata Fatma. Anak sulungnya, Aprianti yang kini berusia 16 tahun dan duduk di bangku kelas I SMK, kondisi tubuhnya normal. Adiknya Remki (5) yang dibawanya ke Ende bersama Septi juga normal seperti anak-anak yang lain.

Selasa, 05 Juli 2011

Gantian Sekarang : Kodok Yang Makan Ular



Emang enak jika dimanga terus?
Mungkin gitu kira2 yang dipikirkan sang kodok...
Lihatlah.. Kini dia gantian yang memakan seekor ular...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Kumpulan Berita Aneh Terbaru powered by blogger.com
Design by Free7 Blogger Templates Makeityourring Diamond